Bangkitkan Nasionalisme Lewat Museum Sumpah Pemuda – Museum Sumpah Pemuda merupakan salah satu situs sejarah penting di Indonesia yang menjadi saksi bisu lahirnya semangat persatuan bangsa. Terletak di Jalan Kramat Raya No.106, Jakarta Pusat, bangunan ini dahulu dikenal sebagai Gedung Kramat 106. Pada awal abad ke-20, gedung tersebut berfungsi sebagai rumah kos bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Hindia Belanda yang menuntut ilmu di Batavia (kini Jakarta).
Tempat ini menjadi pusat aktivitas kaum muda dari berbagai latar belakang suku dan daerah. Mereka sering berdiskusi mengenai nasib bangsa, kondisi penjajahan, serta cita-cita untuk mempersatukan Indonesia. Dari sinilah cikal bakal pergerakan nasional dan kesadaran rafasya.id kebangsaan mulai tumbuh.
Peristiwa Penting: Kongres Pemuda II Tahun 1928
Gedung Kramat 106 mencapai puncak sejarahnya pada tanggal 27–28 Oktober 1928 ketika menjadi tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II. Dalam kongres ini, para pemuda dari berbagai organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, dan Jong Ambon bersatu dalam satu tujuan, yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pada hari kedua kongres, 28 Oktober 1928, para peserta menyatakan Sumpah Pemuda yang berbunyi:
- Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
- Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
- Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa, menegaskan tekad para pemuda untuk bersatu melawan penjajahan dan membangun unsub-ac.id identitas nasional.
Perubahan Menjadi Museum Sumpah Pemuda
Setelah Indonesia merdeka, gedung bersejarah ini beberapa kali mengalami perubahan fungsi. Pada tahun 1934, bangunan sempat menjadi tempat tinggal warga, kemudian dijadikan kantor dan toko oleh beberapa pihak. Namun, nilai historisnya tetap diingat oleh masyarakat dan pemerintah.
Akhirnya, pada 20 Mei 1974, gedung ini resmi ditetapkan sebagai Museum Sumpah Pemuda oleh Pemerintah DKI Jakarta. Peresmian tersebut dilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin. Sejak saat itu, museum ini menjadi tempat edukasi sejarah dan simbol semangat persatuan bangsa.
Koleksi dan Nilai Edukatif Museum Sumpah Pemuda
Museum Sumpah Pemuda menyimpan berbagai koleksi bersejarah, seperti dokumen, foto, pakaian, alat musik, hingga diorama yang menggambarkan suasana Kongres Pemuda II. Salah satu koleksi yang paling ikonik adalah biola milik Wage Rudolf Supratman, yang digunakan untuk memainkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya.
Selain itu, museum ini juga menampilkan rekam jejak perjuangan organisasi pemuda dan peran penting mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bagi generasi muda, kunjungan ke museum ini menjadi sarana belajar untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mengenang semangat perjuangan para pendahulu.
Penutup
Museum Sumpah Pemuda bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol persatuan dan semangat kebangsaan yang lahir dari tekad para pemuda Indonesia. Melalui museum ini, masyarakat dapat memahami bagaimana semangat perjuangan dan persaudaraan lintas suku menjadi fondasi utama berdirinya bangsa Indonesia. Mengunjungi museum ini berarti menghargai sejarah dan menyalakan kembali api nasionalisme dalam diri setiap anak bangsa.